Kamis, 07 Juni 2012

laporan resmi planktonologi fitoplankton


LAPORAN RESMI PLANKTONOLOGI
FITOPLANKTON
Diatom dan Dinoflagellata



Disusun oleh :
Pradaniati Farida S.
26020111130036











PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1           Latar Belakang

Jumlah dan keanekaragaman jenis biota yang hidup dilaut sangat menakjubkan. Walaupun sudah banyak sekali diketahui jenis- jenis tersebut ilmuan masih saja menemukan penghuni-penghuni baru terutama didaerah terpencil dan lingkungan laut yang dulunya tidak pernah dijangkau orang.perbadaan dalam berbagai keadaan lingkungan laut sangat besar dalam mempengaruhi penyebaran biota-biota laut tersebut (Sachlan, 1982).

Meskipun dilaut terdapat kehidupan yang sangat beragam,tetapi lazim biota laut hanya dikelompokkan kedalam tiga kategori utama yakni:plankton,nekton,dan bentos.pengelompokkan ini tidak ada kaitanya dengan jenis menurut klasifikasi ilmiah ,ukuran atau mereka tumbuh tumbuhan dan hewan,tetapi hanya didasarkan pada kebiasaan hidup mereka secara umum (Hutabarat, 1986).
Plankton adalah suatu organisme yang berukuran kecil yang hidupnya terombang ambing oleh arus di laut bebas. Mereka terdiri dari makhluk-makhluk yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan (phytoplankton). Kecilnya ukuran plankton tidaklah mengandung arti bahwa mereka adalah organisme yang kurang penting. Mereka merupakan sumber makanan bagi ikan komersial yang penting yang hidup di lautan. Dengan kata lain, kelangsungan hidup ikan bergantung pada jumlah plankton yang ada. Ikan merupakan salah satu makanan penting bagi manusia, secara tidak langsung makanan yang kita makanpun tergantung pada mereka (Hutabarat, 1986).
Plankton merupakan biota yang mengapung, mencakup sejumlah besar biota di laut, baik ditinjau dari jumlah jenisnya maupun kepadatannya. Mereka hidup terbatas di lapisan perairan laut beberapa ratus meter dari permukaan laut. Meskipun fitoplankton membentuk sejumlah besar biomassa dilaut, kelompok ini hanya diwakili oleh beberapa filum saja. Sebagian besar bersel satu dan mikroskopik (Kasijan, 2001).
Plankton yakni mahluk  tumbuhan dan hewan yang hidup melayang atau mengambang dalam air, yang selalu terbawa hanyut oleh arus. Fitoplankton ada dimana – mana, tumbuhan renik ini terdapat di seluruh permukaan laut sampai kedalaman yang dapat ditembus cahaya matahari. Fitoplankton memiliki peranan penting dalam hal fotosintesis (Nontji, 2008).
Plankton pertama kali diperkenalkan oleh Victor Hensen pada tahun 1887, yang berarti pengembara. Plankton merupakan sekelompok biota di dalam ekosistem akuatik (baik tumbuhan maupun hewan) yang hidup mengapung secara pasif, sehingga sangat dipengaruhi oleh arus yang lemah sekalipun (Arinardi, 1997).
1.2              Tujuan
a.       Mahasiswa dapat mengetahui definisi serta terminologi fitoplankton
b.      Mahasiswa dapat mengklasifikasikan genus serta ciri – ciri fitoplankton









BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.            Fitoplankton
Klasifikasi dalam biologi membedakan plankton dalam dua kategori utama yaitu fitoplankton yang meliputi semua hubungan renik dan zooplankton yang meliputi hewan yang umumnya renik (Rutter, 1973).
Fitoplankton ada yang berukuran besar dan kecil dan biasanya yang besar tertangkap oleh jaringan plankton yang terdiri dari dua kelompok besar, yaitu diatom dan dinoflagellata. Diatom mudah dibedakan dari dinoflagellata karena bentuknya seperti kotak gelas yang unik dan tidak memiliki alat gerak. Pada proses reproduksi tiap diatom akan membela dirinya menjadi dua. Satu belahan dari bagian hidup diatom akan menempati katup atas (epiteka) dan belahan yang kedua akan menempati katup bawah (hipoteka). Sedangkan kelompok utama kedua yaitu dinoflagellata yang dicirikan dengan sepasang flagella yang digunakan untuk bergerak dalam air. Beberapa dinoflagellata seperti Nocticula yang mampu menghasilkan cahaya melalui proses bioluminesens (Nybakken, 1992).
Anggota fitoplankton yang merupakan minoritas adalah berbagai alga hijau biru (Cyanophyceae), kokolitofor (Coccolithophoridae, Haptophyceae), dan silicoflagellata (Dictyochaceae, Chrysophyceae). Cyanophyceae laut hanya terdapat di laut tropik dan sering sekali membentuk “permadani” filamen yang padat dan dapat mewarnai air (Nybakken, 1992).
Sachlan (1972) menggolongkan algae dalam tujuh golongan berdasarkan pigmen yang dikandungnya dan habitatnya, yaitu :
Ø    Cyanophyta     : alga biru yang hidup di air tawar dan laut.
Ø    Chlorophyta    : alga hijau banyak hidup di air tawar
Ø    Chrysophyta    : alga kuning yang hidup di air tawar dan laut

Ø    Phyrrophyta    : alga yang hidup sebagai plankton di air tawar
dan di laut
Ø    Eugulenophyta: hidup di air tawar dan di air payau
Ø    Phaeophyta     : alga coklat yang hidup sebagai rumput laut
Ø    Rhodophyta    : alga merah yang hidup sebagai rumput laut.
Fitoplankton hanya dapat dijumpai pada lapisan permukaan saja karena mereka hanya dapat hidup di tempat-tempat yang mempunyai sinar matahari yang cukup untuk melakukan fotosintesis. Mereka akan lebih banyak dijumpai pada tempat yang terletak di daerah continental shelf dan di sepanjang pantai dimana terdapat proses upwelling. Daerah ini biasanya merupakan suatu daerah yang cukup kaya akan bahan-bahan organic (Hutabarat dan Evans, 1985).
Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang di laut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 – 200 µm (1 µm = 0,001mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada yang berbentuk rantai (Hutabarat, 1986) .





Gambar 1. Phytoplankton
Meskipun ukurannya sangat kecil, namun fitoplankton dapat tumbuh dengan sangat lebat dan padat sehingga dapat menyebabkan perubahan warna pada air laut. Fitoplankton mempunyai fungsi penting di laut, karena bersifat autotrofik, yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organik untuk makanannya. Selain itu, fitoplankton juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik karena mengandung klorofil. Karena kemampuannya ini, fitoplankton disebut sebagai produser primer (Hutabarat, 1986).
Bahan organik yang diproduksi fitoplankton menjadi sumber energi untuk menjalani segala fungsinya. Tetapi, di samping itu energi yang terkandung di dalam fitoplankton dialirkan melalui rantai makanan. Seluruh hewan laut seperti udang, ikan, cumi-cumi, sampai ikan paus yang berukuran raksasa bergantung pada fitoplankton baik secara langsung atau tidak langsung melalui rantai makanan (Hutabarat, 1986).
2.1.1.   Diatom ( Bacillariophyceae)
Diatom merupakan fitoplankton yang termasuk dalam kelas Bacillaniophyceae. Kelompok mi merupakan komponen fitoplankton yang paling umum dijumpai di laut. Ia terdapat di mana saja, dan tepi pantai hiugga ke tengah samudra. Diperkirakan di dunia ada sekitar 1400—1800 jenis diatom, tetapi tidak semua hidup sebagai plankton. Ada juga yang hidup sebagai bentos (di dasar laut), atau yang kehidupan normalnya di dasar laut tetapi oleh gerakan adukan air dapat membuatnya lepas dan dasar dan terbawa hanyut sebagai plankton (disebut sebagai tikoplankton) (Sachlan, 1982).
Diatom merupakan tumbuhan mikroskopis di laut yang merupakan tumpuan hidup (langsung atau tak langsung) bagi sebagian besar biota laut. Oleh sebab itu, berbagai julukan dibenikan bagi diatom mi, misalnya diatom dipandang sebagai pembentuk utama “marine pasture” atau padang penggembalaan yang menghidupi jasad hidup lainnya. Atau sebagai komponen utama “invisible forest” yakni hutan belantara yang tak terlihat, karena banyaknya bahkan bisa ribuan hingga jutaan individu per liter dengan keanekaragaman yang tinggi, dan dengan kemampuan fotosintesis tidak kalah dengan hutan di darat (Sachlan, 1982).
Diatom juga dijuluki sebagai “jewel of the sea” atau permata dan laut, karena selain kehadirannya yang sangat umum, kerangka dinding selnya mengandung silika, bahan bagaikan kaca, yang kaya dengan berbagai variasi bentuk yang menawan dengan simetri yang indah (Sachlan, 1982).
Diatom atau kelas Bacillariophyceae ini terbagi atas dua ordo yakni Centrales (Iebih populer disebut centric diatom) dan Pennales (pennate diatom). Diatom sentrik (centric) bercirikan bentuk sel yang mempunyai simetri radial atau konsentrik dengan satu titik pusat. Selnya bisa berbentuk bulat, lonjong, silindris, dengan penampang bulat, segitiga atau segi empat. Sebaliknya diatom penat (pennate) mempunyai simetri bilateral, yang bentuknya umumnya memanjang, atau berbentuk sigmoid seperti huruf”S”. Sepanjang median diatom penat ada jalur tengah yang disebut räfe (raphe) (Sachlan, 1982).
Struktur umum sel diatom dapat dijelaskan secara sederhana dengan model dan diatom sentrik. Sel dengan kerangka silikanya disebut frustul (frustule). Morfologi furustul terdiri dan dua valva (valve) setangkup, bagaikan cawan petri (petri dish), atau bagaikan kotak obat (pill box). Valva bagian alas disebut epiteka (epitheca) yang menutupi sebagian valva bagian bawah yang disebut hipoteka (hypotheca) . Bagian tumpang tindih yang melingkar pinggangnya disebut girdel (girdle). Seluruh permukaan valva boleh dikatakan penuh dengan berbagai omamentasi yang simetris dan indah, dan pori pori yang menghubungkan sitoplasma dalam dengan lingkungan di luarnya. Ciri omamentasi pada valva mi merupakan hal penting untuk identifikasi jenis. Di dalam frustul terdapat sitoplasma yang mengandung inti sel dan vakuola yang besar. Di dalam sitoplasma terdapat pula kromatofor (chromai’ophore) yang umumnya berwarna kuning-cokiat karena adanya pigmen karotenoid (Sachlan, 1982).
Dalam kajian diatom di Laut Jawa, dijumpai sedikitnya 127 jenis diatom, yang terdiri dari 91 jenis diatom sentnik, dan 36 jenis diatom penate. Ini juga menunjukkan kecenderungan lebih umumnya dijumpai diatom sentrik daripada diatom penate (Sachlan, 1982).
Reproduksi diatom dapat terjadi secara seksual atau aseksual, meskipun reproduksi aseksual / vegetatif adalah yang sangat umum. Reproduksi aseksual terjadi dengan pembelahan sitoplasma dalam frustul dimana epiteka induk akan menghasilkan hipoteka yang baru, sedangkan hipoteka yang lama akan menjadi epiteka yang menghasilkan hipoteka yang baru pula pada anakannya, dan seterusnya. Dengan demikian suksesi reproduksi aseksual ini akan menghasilkan ukuran sel yang semakin kecil. Suatu ketika ukurannya mencapai minimum yang selanjutkan akan dikompensasi dengan tumbuhnya auksospora berukuran besar yang akan membelah dan menghasilkan sel baru yang kembali berukuran besar. (Sachlan, 1982).
Diatom dapat hidup sebagai individu sel tunggal yang soliter, atau terhubung dengan sel lainnya membentuk koloni bagaikan rantai, dengan rangkaian antar selnya bervariasi menurut jenis. Hubungan antar sel ini dapat berupa benang tunggal dari mukus seperti pada Thalassiosira, atau dengan benang banyak seperti pada Chaetoceros dan Bacteriastrum. Gelombang laut yang kuat dapat membuat rantai yang semula panjang pecah menjadi rantai yang lebih pendek (Sachlan, 1982).
Ukuran diatom cukup beragam, dari yang kecil berukuran sekitar 5 mikron sampa yang relatif besar sampai sekitar 2 mm. Ditylum misalnya dapat berukuran sampai 100-150 mikron, sedangkan Rhizosolenia yang berbentuk pinsil panjang langsung bisa lebih dari 1 mm. Coscinodiscus yang berbentuk bundar dapat memiliki diameter lebih dari 400 mikron. Termasuk berukuran ekstrim adalah Ethmodiscus yang bisa mencapai 2 mm (Sachlan, 1982).
Distribusi plankton diatom bervariasi secara temporal (bergantung waktu) dan spasial (ruang), yang banyak ditentukan oleh faktor-faktor lingkungannya yang mempengaruhinya. Sebaran horizontal misalnya lebih banyak ditentukan oleh faktor suhu, salinitas, dan arus. Diperairan ugahari / temperat yang mengalami perubahan musim panas dan musim dinging yang nyata, vatiasi musiman suhu, hara, dan cahaya akan mempengaruhi keberadaan dan suksesi plankton diatom (Sachlan, 1982)
2.1.2.    Dinoflagellata (Dinophyceae)
Dinoflagelata adalah grup fitoplankton yang sangat umum ditemukan di laut setelah diatom. Dinaoflagelata termasuk dalam kelas Dinophyceae. Ciri khas yang terdapat pada dinoflagelat adalah kandungan pigmen dalam selnya, yang tidak saja mengandung klorofil a dan klorofil c, tetapi sangat spesifik adalah kandungan pigmen a-karoten dan grup xanthophylls termasuk dinoxanthin, peridinin, dan diadinoxanthin. Kehadiran pigmen ini meyebabkan warnanya umumnya coklat kekuningan, meskipun terdapat variasi antar jenis. Ciri lain dari dinoflagelat adalah adanya organ untuk bergerak (locomotary organ) berupa flagela yang bentuk seperti bulu cambuk (Sachlan, 1982).
Berdasarkan kebiasaan hidupnya dan lokasi flagelanya, dinoflagelata dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni Desmokontae dan Dinokontae. Pada Desmokontae, terdapat dua flagela yang semuanya berlokasi pada ujung (anterior) sel. Ini misalnya terdapat pada jenis Exuviella dan Prorocentrum. Pada kelompok Dinokontae, kedua flagelanya memiliki lokasi yang berbeda. Ada flagela transversal (melintang) yang terdapat alam alur (groove) yang mengitari pinggang sel, dan ada juga flagela longitudinal dalam alur membujur dan memanjang hingga keluar sel, bagaikan ekor. Gerakan flagela transversal memungkinkan sel untuk bergerak melintir, sedeangkan flagela longitudinal untuk bergerak maju (Sachlan, 1982).
Dinding sel pada dinoflagelat ada yang berupa dinding selulosa yang tebal dan kuat yang bisa berupa pelat pelat yang melindungi sel. Oleh karenanya, dinoflagelat yang memiliki pelat pelat ini disebut tibe berperisai. Ada pula dinoflagelat tipe telanjang, yang tidak memiliki pelat perisai. Ciri - ciri pelat perisai ini merupakan hal penting untuk identifikasi jenis (Sachlan, 1982).
Reproduksi pada dinoflagelat umumnya adalah dengan pembelahan sel (binary fission). Laju pembelahan ini akan sangat tinggi bila lingkungannya optimal, meskipun terdapat variasi antar jenis dan antar waktu. Masa penggandaan (doubling time) pada Peridinium misalnya berkisar 10 hingga 50 jam, Prorocentrum berkisar 12 hingga 127 jam, Exuviella antara 15 hingga 90 jam, dan Ceratium furca maksimum 48 Jam (Sachlan, 1982).
Banyak Jenis dinoflagelata dapat membentuk sista. Beberap jenis dapat membalut dirinya dengan lapisan bergelatin sebagai tahap istirahat. Yang lebih spesifik adalah dengan pembentukan dinding tebal yang meliputi sael dan membentuk resting spore. Sista dinoflagelat ini sering mengendap di dasar laut, dan disitu dia istirahat sampai tiba saatnya bila lingkungannya mendukung dia tumbuh kembali sebagai plankton. Lamanya dalam bentuk sista bisa sampai waktu yang sangat panjang, misalnya pada Peridinium trochoideum bisa sampai sembilan bulan (Sachlan, 1982).
Pembentukan sista pada dinoflagelat ini dapat menyulitkan penelitian dan pengendalian HAB (Harmful Algae Bloom). Salah satu dinoflagelat penyebab HAB, Pyrodinium bahamense var. compressum misalnya, bila pengamatannya hanya berdasarkan contoh plankton saja mungkin tidak menemukan apa-apa karena sebenarnya dia sedang istirahat panajng dalam bentuk sista di dasar laut. Tetapi suatu waktu dia akan bangkit tumbuh dengan populasi meledak sebagai plankton yang minumbulkan masalah lingkungan, kesehatan, dan ekonomi yang sangat merugikan (Sachlan, 1982).
Ada berbagai marga dinoflagelat yang sering dijumpai, antara lain Prorocentrum, Peridinium, Gymnodinium, Noctiluca, Gonyaulax, Ceratium, Ceratocorys, Ornithocercus, Amphisolenia. Banyak jenis dinoflagelat memiliki arti penting bagi perikanan karena merupakan makanan bagi banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi (Sachlan, 1982).
Namun disamping itu, banyak pula jenis dinoflagelat yang dapat menghasilkan toksin, dan karenanya bila jenis-jenis ini tumbuh meledak akan menimbulkan kerugian besar, misalnya dapat menimbulkan kematian massal ikan. Dapat juga terjadi toksin dari dinoflagelat ini, lewat rantai pakan, akan ditransfer ke dalam tubuh kerang-kerangan, dan bila orang memakan kerang tersebut akan dapat menimbulkan gejala keracunan, dari gejala keracunan ringan hingga yang dapat mematikan. Ledakan populasi Pyrodinium bahamense var. compressum misalnya, telah dilaporkan pernah menyebabkan kasus kematian penduduk di berbagai tempat di indonesia. Dinoflagelata juga dikenal banyak memiliki kemampuan bioluminisensi, yakni menghasilkan cahaya dari proses yang terjadi di dalam tubuhnya. Noctiluca scintillans misalnya, dapat menghasilkan cahaya biru muda. Suatu literatur menyebutkan bahwa dengan konsentrasi sebesar 200 sel/liter noctiluca dapat menghasilkan cahaya lemah, sedangkan dengan konsenstrasi 1000-2000 sel/liter dapat menghasilkan cahaya yang lumayan kuat. Banyak dinoflagelata lain dapat menghasilkan chaya bioliminisensi melalui reaksi enzimatis luciferin-luciferase. Bila malam hari kita berlayar di laut akan sering kita jumpai laut gemerlap bila tersibak ombak. Ini adalah bioluminisensi yang disebabkan oleh berbagai jenis plankton, antara lain oleh dinoflagelata (Sachlan, 1982).





















BAB III

MATERI DAN METODE


3.1.            Waktu dan Tempat Praktikum
Hari / Tanggal   : Senin, 26 April 2012
Pukul                : pukul 13.00  -  14.00 WIB
Tempat              : Laboratorium Biologi Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang
3.2.            Alat dan Bahan
3.2.1.      Alat
No.
Nama Alat
Gambar
Keterangan
1
Mikroskop
Alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata kasar.
2
Pipet Tetes
Alat yang digunakan untuk mengambil sampel dari plankton yang terdapat dalam gelas beker,dan kemudian diteteskan keatas kaca preparat.
3
Botol Sampel
Untuk menampung sampel fitoplankton
4
Sedgewick rafter
Sebagai media tempat plankton diletakkan
5
Buku Identifikasi
Media untuk menentukan dari jenis plankton yang sudah ditemukan dengan mikroskop.
6
Alat Tulis
alat yang digunakan untuk menunjang lancarnya dan rapinya dari pembuatan laporan sementara dari praktikum planktonologi.
7
Kamera Digital
Untuk mengabadikan kegiatan praktikum dan memfoto hasil pengamatan




3.1.2        Bahan
No.
Nama Bahan
Gambar
Keterangan
1
Formalin 4 %
Sebagai cairan untuk mengawetkan sampel plantkon
2
Lugol
Sebagai cairan untuk mengawetkan sampel plantkon
3
Sampel Fitoplankton
Bahan utama dari praktikum planktonologi ini, yang diambil dan kemudian diidentifikasi
3.3.   Cara Kerja
1.   Siapkanlah mikroskop dan peralatan praktikum
2.   Ambillah sampel fitoplankton dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 1 ml
3.   Kemudian taruhlah kedalam sedgwick rafter ditutup dengan paper glass, jangan sampai ada gelembung udara dalam sedgewick rafter
4.   Taruh sedgewick rafter ke atas meja pengamatan pada mikroskop
5.   Nyalakan lampu mikroskop
6.   Amatilah sampel fitoplankton dengan pembesaran mikroskop 40 X
7.   Gambar fitoplankton yang ditemukan dan definisikan nama genusnya.



BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.            Hasil
Pada saat praktikum didapatkan beberapa sampel fitoplankton berjumlah 10 jenis, 5 diantaranya jenis plankton Diatom dan 5 jenis lagi yaitu jenis plankton Dinoflagellata. Jenis-jenis plankton tersebut adalah:
Tabel Gambar Diatom
No.
Gambar 1
Gambar 2
1.
Pleurosigma

2.
 Planktoniella

3.
 Coscinodiscus

4.
 Bacteriastrum

5.
 Streptotheca






Tabel Gambar Dinoflagellata
No.
Gambar 1
Gambar 2
1.
Peridinium

2.
Ceratium

3.
Ceratocorys

4.
Gonyaulax

5.
Noctiluca



4.2.            Pembahasan
4.2.1.      Plankton Diatom
Tabel Taksonomi Diatom
No.
Jenis Fitoplankton
Taksonominya
1.

Pleurosigma

Divisi:Bacillariophyta

Kelas:Bacillariophyceae

Bangsa:Pennales

Suku:Naviculaceae

Marga:Pleurosigma

2.
Skeletonema

Divisi:Bacillariophyta

Kelas:Bacillariophyceae

Bangsa:Centrales

Suku:Thalassiosiraceae

Marga:Skeletonema

3.
Coscinodiscus
Divisi:Bacillariophyta
Kelas:Bacillariophyceae
Bangsa:Centrales
Suku:Biddulphiaceae
Marga:Eucampia
4.
Bacteriastrum
Divisi:Bacillariophyta
Kelas:Bacillariophyceae
Bangsa:Centrales
Suku:Chaetoceraceae
Marga:Bacteriastrum
5.
Streptotheca

Divisi:Bacillariophyta
Kelas:Bacillariophyceae
Bangsa:Centrales
Suku:Biddulphiaceae
Marga:Streptotheca

1)      Pleurosygma
Pleurosygma merupakan phytoplankton yang memiliki ciri – ciri seperti : raphe dan  valve sigmoid, kedua valve memiliki raphe sejati, valve agak pipih, memiliki 2 atau 4 chloroplast memanjang, kadang sangat rumit dan terletak dibawah permukaan valve, dan banyak terdapat pyrenoids ditiap chloroplast tersebar dari tropis sampai kekutub (Nontji, 2008).
Plankton ini berbentuk elips agak memanjang dan pada tubuhnya terlihat satu simetris yang membagi tubuh phytoplankton ini menjadi dua bagian yang sama.permukaan katub kurang lebih rata,sigmoid,hampir lurus,terdapat 2 atau 4 pemanjangan kloroplas,sering kali terlihat kusut dan terdapat dibawah permukaan kutub.bersifat soliter,temperature optimal 270C dan salinitas maksimal 36 ‰ (Nontji, 2008).

2)      Skeletonema
Skeletonema merupakan diatom dari golongan centrales, yaitu plankton yang mempunyai bentuk silinder dan sebagian besar hidup di air laut. Diatom sering juga disebut ganggang kersik, karena mempunyai sel yang mengandung silikat. (Djarijah, 1995)

Phytoplankton ini merupakan alga bersel tunggal, dengan ukuran sel berkisar antara 4-15 mikron. Akan tetapi alga ini dapat membentuk untaian rantai yang terdiri dari beberapa sel. Sel yang berbentuk kotak yang terdiri atas epiteka pada bagian atas dan hipoteka pada bagian bawah. Bagian hipoteka mempunyai lubang-lubang yang berpola khas dan indah yang terbuat dari silikon oksida. Pada setiap sel dipenuhi oleh sitoplasma.(Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). 

Kamat dalam Anonimus (2002) menyatakan Skeletonema memiliki dinding sel yang mengandung frustula yang bisa menghasilkan skeletal external yang berbentuk cembung serta mempunyai duri-duri yang berfungsi untuk menghubungkan antara frustula yang satu dengan yang lainnya sehingga terbentuk fiamen-filamen yang panjang. Dinding selnya terdiri dari pectin dan silikat sehingga membentuk pigmen yang terdiri dari klorofil, karotein dan frukosantin. Karotein inilah yang menyebabkan dinding sel S. costatum berwarna coklat keemasan.

Skeletonema bereproduksi dengan pembelahan sel, yaitu protoplasma terbagi menjadi dua bagian yang disebut epiteka dan hipoteka, masing-masing dari bagian ini akan membentuk epiteka dan hipoteka baru yang ukurannya lebih kecil dari ukuran induknya (Semeru dan Ana, 1992). Lebih lanjut ditambahkan oleh Isnansetyo dan kurniastuty (1995), pembelahan sel yang berulang-ulang mengakibatkan ukuran sel S. costatum semakin mengecil. 
Disaat ukuran sel telah mencapai 7 mikron, maka reproduksinya tidak lagi terjadi secara aseksual tetapi berubah menjadi reproduksi secara seksual melalui pembentukan autospora. Autospora akan membentuk epiteka dan hipoteka baru yang tumbuh menjadi sel yang ukurannya semakin membesar. Dan setelah itu akan terjadi pembelahan sel sehingga membentuk seperti rantai. Diatomae, Skeletonema sp. merupakan satu jenis yang banyak mendapat perhatian, karena peranannya sebagai makanan beberapa macam biota laut (Praseno & Adnan, 1980; Sutomo, 2002).
3)      Coscinodiscus
Sel Coscinodiscus berbentuk simetri radial(bulat) berukuran 100 µ.sel coscinodiscus ini merupakan kels dari Bacillariophyceae.hidup diperairan laut secara soliter.Coscinodiscus theca(epyteca dan hypotheca). Antara epyheca dan hypoteca dihubungkan oleh pectin,dinding selnya tersusun atas silikal ya ng merupakan pembatas antara kerangka luar bagi sitoplasma,vakoula dan nucleus,Coscinodiscus, sel yang soliter ,cangkang berbentuk segi delapan,memiliki banyak kloroplas,permukaan sel berbentu flat/datar,hidup pada temperature optimum 250C dan salinitas maksimal 36 ‰,mempunyai pola areal berbentuk radial. (Thomas,1997)
4)      Bacteriastrum
Bacteriastrum adalah genus diatom di keluarga Chaetocerotaceae keluarga. Ada lebih dari 30 jenis yang diuraikan dalam Bacteriastrum genus, tapi banyak di antaranya belum diterima, dan spesies baru masih ditambahkan ke genus. Genus ini sering dikaitkan dengan Chaetoceros tetapi berbeda dalam simetri radial dan fanestration dari setae. Koloni cenderung berkamuflase dalam tampilan korset dan sel – sel yang dipisahkan oleh lingkungan bagian basal setae, meninggalkan celah kecil antar sel. Sel – sel yang silinder dan dihubungkan untuk membentuk filamen. Setiap sel memikiki beberapa lama, memancar setae yang  memungkinkan sederhana atau membagi dalam dua cabang (Nybakken,1992)

5)      Streptotecha
Streptotheca merupakan salah satu jenis mikroalga yang cukup besar populasinya di perairan, mendapatkan nutrisi dengan proses fotosintesis dan juga merupakan salah satu produsen primer yang penting. Habitatnya adalah di perairan laut atau air asin, biasanya streptotheca ditemukan di lingkungan pelagis atau menempel pada biota lain. Streptotheca memiliki warna kuning kecoklatan karena pengaruh pigmennya, bukan hijau seperti kebanyakan alga lainnya. Sel streptotheca membentuk satu jalinan yang membentuk filamen panjang yang berbentuk seperti pita, yang biasanya dapat kusut (Nybakken, 1992).

4.2.2.      Plankton Dinoflagellata
Tabel Taksonomi Dinoflagellata
No.
Jenis Fitoplankton
Taksonominya
1.
Peridinium
Divisi:Pyrrophycophyta
Kelas:Dinophyceae
Bangsa:Peridiniales
Suku:Peridiniaceae
Marga:Peridinium
2.
Ceratium
Divisi:Pyrrophycophyta
Kelas:Dinophyceae
Bangsa:Gonyaulacales
Suku:Ceratiaceae
Marga:Ceratium
3.
Ceratocorys
Divisi:Pyrrophycophyta
Kelas:Dinophyceae
Bangsa:Gonyaulacales
Suku:Ceratocoryaceae
Marga:Ceratocorys
4.
Gonyaulax
Divisi:Pyrrophycophyta
Kelas:Dinophyceae
Bangsa:Gonyaulacales
Suku:Gonyaulacaceae
Marga:Gonyaulax
5.
Noctiluca
Divisi:Pyrrophycophyta
Kelas:Dinophyceae
Bangsa:Noctilucales
Suku:Noctilucaceae
Marga:Noctiluca




1)      Peridinium
Peridinium adalah genus besar dari dinoflagellata yang berukuran besar hingga berukuran sedang, beberapa memiliki kemampuan fotosintesis, namun tidak semua spesies memiliki kemampuan tersebut. Spesies yang nonphotosyntesis antara lain phagotrofik dan osmotrofik. Spesies terdapat di habitat air tawar maupun air asin diseluruh dunia. Setidaknya beberapa spesies fotosintetik dapat membentuk bloom atau red tide. Beberapa fenomena bloom ini dibarengi dengan bau yang menyengat dan kematian ikan, meskipun blooming yang terparah dihasilkan oleh dinoflagellata dari genus lain (Sachlan, 1982).
Spesies fotosintetik dalam genus Peridinium, dan spesies yang masih berkerabat secara genera masih tetap dianggap sebagai spesies peridinium bagi banyak ilmuwan, dan sering digunakan sebagai organisme eksperimental dalam penelitian sel biologis, terutama di bidang memiliki struktur dan fungsi nuklir, ritme circadian, dan endosimbyosis (Sachlan, 1982).
2)      Ceratium
Ceratium sp merupakan fitoplantkon berwarna coklat, tergabung dalam genus yang berbentuk menajam ( armoused ). Termasuk dalam kelas dynoflagellata. Memiliki bentuk umum yaitu terdiri membran vesikel berisi lapisan – lapisan theca yang cukup nyata, memiliki substansi cadangan utama berupa karbohidrat dan garam, memiliki nukleus yang besar dengan penampilan berbentuk seperti manik – manik, Ceratium sp juga memiliki trichocysr dan stigma (Nybakken, 1992).
Salah satu uji sempel Ceratium sp yang ditemukan pada sampel air tambak garam ini adalah Ceratium tripos, dimana jumlahnya sangat sedikit yaitu 1 x  104  sel/ml. Ceratium sp menurut Taylor et al., (1995) dalam Praseno dan Sugestiningsih, (2000) biasanya tersebar sangat luas di perairan pantai dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap variasi salinitas yang besar (5 -70 ‰). Berbeda halnya dengan ceratium yang saya teliti, jumlah Ceratium sp yang kita amati cukup banyak, dengan dibuktikan oleh 3 X penemuan pada saat praktium berlangsung. Ceratium sp merupakan phytoplankton yang jumlahnya dipengaruhi oleh salinitas lingkungan. (Rudiani,2002)
3)      Ceratocorys
Ceratocorys dapat membalut dirinya dengan lapisan bergelatin sebagai tahap istirahat. Yang lebih spesifik adalah dengan pembentukan dinding tebal yang meliputi sel dan membentuk spora istirahat.
Ceratocorys juga memiliki arti penting bagi perikanan, contoh merupakan makanan bagi banyak jenis ikan
4)      Gonyaulax
5)      Noctiluca
Noctiluca merupakan genus dari dinoflagelata. Noctiluca berbeda dengan kebanyakan dari dinoflagelata karena sel dewasanya adalah diploid  dan nukleusnya tidak menunjukkan pengorganisasian dinokaryotik, dan juga mereka menampakkan meiosis gametik. Sel-sel ini sangat besar, berukuran diameter dari 1 hingga 2 milimeter, dan terisi dengan vakuola buoyant (apung). Beberapa jenis dapat memiliki alga hijau simbion, namun tidak ditemukan kloroplas. Mereka makan dari plankton lain dan biasanya ada tentakel spesial untuk makan-memakan. Reproduksi noctiluca biasanya dengan fission, secara vegetatif. Namun reproduksi secara seksual juga terjadi. Tiap sel memproduksi gamet dalam jumlah besar, yang sekilas nampak seperti dinoflagelata atekat yang memiliki nukleus dinokaryotik. Mereka biasa hidup tepat di bawah permukaan air laut, dan dapat mengeluarkan cahaya  (Nybakken,1992).


























BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.    Kesimpulan
1.      Fitoplankton merupakan organisme yang menjadi produsen primer di perairan, dengan kemampuannya berfotosintesis dan merupakan basis dari rantai energi di perairan.\
2.      Dari hasil pengamatan, sampel air yang diamati didapat beberapa jenis fitoplankton. Setelah dilakukan identifikasi didapatkan nama - nama genus fitoplankton, yang di bagi menjadi dua berdasarkan biodiveritasnya yaitu: diatom => Pleurosigma, Planktoniella, Coscinodiscus, Bacteriastrum dan Streptotheca ; dinoflagellata => Peridinium, Ceratium, Ceratocorys, Gonyaulax, Noctiluca
3.      Manfaat Fitoplankton bagi manusia antara lain sebagai pakan ikan atau hewan-hewan budidaya air lainnya, dapat digunakan sebagai indikator pencemaran di suatu perairan, farmakologi, sampel untuk eksperimen saintifik, dan lain sebagainya.
4.      Diatom merupakan tumbuhan mikroskopis di laut yang merupakan tumpuan hidup (langsung atau tak langsung) bagi sebagian besar biota laut.
5.      Dinaoflagelata termasuk dalam kelas Dinophyceae. Ciri khas yang terdapat pada dinoflagelat adalah kandungan pigmen dalam selnya, yang tidak saja mengandung klorofil a dan klorofil c, tetapi sangat spesifik adalah kandungan pigmen a-karoten dan grup xanthophylls termasuk dinoxanthin, peridinin, dan diadinoxanthin.




5.2.   Saran
F Sebaiknya ikut sertakan peserta praktikum dalam sampling plankton, sehingga praktikan dapat mengetahui secara langsung habitat plankton yang disampling.
F Sebaiknya penjelasan tentang karakteristik dan sedikit pemahaman mengenai plankton yang ditemukan dibawah mikroskop dijelaskan secara singkat agar praktikan lebih tertarik dan mengerti tentang objek plankton yang diamati.
F Dalam melakukan identifikasi harus teliti dalam  mencocokan gambar yang didapat dari pengamatan dengan gambar di buku identifikasi.
F Kebersihan alat dan laboratorium harus selalu dijaga.
















DAFTAR PUSTAKA
Arinardi, O.H., A.B. Sutomo, S.A. Yusuf, Trianingnsih, E. Asnaryanti dan S. H. Riyono. 1997. Kisaran Kelimpahan dan Komposisi Plankton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. P3O-LIPI. Jakarta. 
Hutabarat,Sahala. 1985. Pengantar oceanografi. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Hutabarat, Sahala dan Stetwart M. Evans. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Nontji, Anugerah. 2008. Plankton Laut. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ) : Jakarta.
Nybakken, James W, 1992. Biologi laut, suatu pendekatan ekologis. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Rahman, A. 2008. Kajian Kandungan Phospat dan Nitrat Pengaruhnya terhadap Kelimpahan Jenis Plankton di Perairan Muara Sungai Nelayan. Kalimantan Scientiae. No 71 T. XXVI Vol. April. 2008.
Romimohtarto, Kasijan dan Sri Juwana, 2004. Meroplankton Laut, larva hewan laut yang menjadi plankton. Ikrar Mandiri Abadi: Jakarta.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. UNDIP: Semarang.
Diakses pada hari Sabtu, tanggal 03 , April 2012, pukul 21.00
www.bi.itb.ac.id/herbarium/
Diakses pada hari Sabtu, tanggal 03 , April 2012, pukul 21.00

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar